Saturday, 3 July 2021

Deal with Depression

 

What I feel today:

-         Bangun pagi dan membuka mata aku mulai menyusun self talk in my mind that I am a bad person, tidak pantas hidup mudah, tidak pantas bahagia, tidak pantas untuk ditolong.

-          Sebulan lalu aku masih bisa membayangkan sebuah rumah kecil yang ingin kumiliki suatu hari nanti, tapi pagi ini ada sebuah suara yang menyatakan aku tidak pantas untuk memiliki cita-cita atau mimpi yang baik. Aku tidak pantas bahkan hanya untuk “membayangkan” memiliki rumah tersebut.

-          Ketika aku merebahkan badan pikiran ku akan dipenuhi dengan pernyataan “aku adalah beban bagi orang-orang yang ku sayangi”. Aku membuat hidup mereka susah. Aku adalah orang yang buruk karena aku gagal dalam semua hal.

-          Aku berhenti dari pekerjaan karena ingin sekolah s3. Meminta pasanganku mengambil kredit di bank, memakai tabungan anakku untuk pindah dan mulai kuliah. Aku bergantung dengan kiriman uang dari pasanganku. Setelah 1tahun ekonomi pasanganku memburuk, 3 bulan aku hidup dengan kartu kredit untuk membayar sewa dan makan. 1,5 tahun kemudian keadaan tidak membaik. Aku memiliki hutang 5juta dengan teman serumah. 500ribu dengan teman serumah. 2,5 juta dengan teman kuliah, 750ribu dengan senior. 5juta dengan ibu ku, 12 juta dengan anakku. 1,7 juta dengan bank.

-          Hari ini, aku terancam akan dikeluarkan dari kampus karena tidak mampu bayar SPP. Aku sedang mengusahakan untuk membuat appeal letter. Jika ditolak aku resmi berhenti. Aku belum tahu seperti apa aku akan hidup dan memenuhi tanggung jawab dan kerusakan yang sudah aku buat.

-          Hari ini aku tinggal dikost, sebuah tempat yang tidak sehat bagi perkembangan anakku yang sedang remaja. Tapi aku tidak memiliki simpanan apapun yang bisa dijual agar bisa keluar dari keadaan yang sangat menekan ini.

-          Berkali-kali aku melamar pekerjaan bahkan untuk pekerjaan level entry tapi selalu gagal.

-          Aku berpikir untuk menjadi supir taxi.   

Monday, 30 January 2017

Children Short Stories



 Uang Receh Kejutan
By: Ina NJ

Setiap hari, sebelum berangat sekolah Mama akan memberikan Anum uang jajan dan menyiapkan bekal makanan. Pagi itu, Mama memberikan Anum uang receh untuk jajan.  
“Mama… Anum nggak mau uang receh” Anum meletakkan dua keping uang receh lima ratusan diatas meja.
“Kenapa Anum, kan buat jajan disekolah lebih mudah, tidak butuh kembalian”. Mama memasukkan uang receh itu kembali kedalam saku Anum.
“Nggak mau Ma, Anum maunya uang kertas”. Anum cemberut.
 “Ya sudah…” Mama memberikan selembar uang dua ribuan kepada Anum.
“Ayo, nanti terlambat sekolah”.
Setelah mencium tangan mama, Anum bergegas naik ke motor ayah.

Siangnya Mama meminta Anum kewarung untuk membeli tepung.
Anum datang dengan membawa sekantong tepung.
“Ini kembaliannya ma, uang receh semua, dua ribu lima ratus” Anum mengeluarkan lima buah uang receh lima ratusan dari sakunya dan membiarkan uang receh tersebut berserakan.
“Anum, tidak boleh begitu, itu juga uang, sama berharganya dengan uang kertas” Mama menegur Anum.

Esok harinya, Mama malah memberikan Anum selembar uang dua ribuan dan dua buah uang receh lima ratusan untuk jajan. Seterusnya selalu begitu. Padahal Mama kan tahu Anum tidak suka uang receh. Anum tidak mau mengambil uang receh itu dan selalu meninggalkannya diatas meja.
Anum tidak suka uang receh karena mudah sekali tercecer, terselip dimana-mana dan hilang, sehingga Anum tidak bisa jajan. Walaupun, sebenarnya Anum juga tidak perlu jajan karena Anum membawa bekal makanan kesekolah.

Waktu kenaikan kelas hampir tiba. Anum senang sekali. Pasti Mama dan Ayah akan membelikan Anum seragam dan perlengkapan sekolah baru.
Tapi, semalam Anum mendengar Ayah dan Mama ngobrol dimeja makan, tentang barang-barang yang harganya mulai naik dan bertambah mahal.
“Aduuhh…, bagaimana kalau harga seragam dan perlengkapan sekolah juga ikut naik”. Anum kasihan sama Mama dan Ayah kalau harus menghabiskan banyak uang untuk membeli keperluan sekolah Anum. Lalu bagaimana ya?

Hari ini hari minggu. Anum baru saja bangun tidur, tiba-tiba Mama mengatakan kalau Mama dan Ayah punya kejutan buat Anum. Hmmm… Anum jadi penasaran.
Rasanya, ulang tahun Anum masih lama.
Kejutan apa ya?
Mama meminta Anum menutup matanya. Anum menurut sambil bertanya-tanya dalam hati, apakah gerangan kejutan yang akan diberikan Mama?
Saat Anum membuka matanya, Anum kaget melihat setoples besar uang receh didepannya. Uang receh yang banyak sekali.
“Mama dari mana dapat uang receh sebanyak ini”  Anum merasa heran.
“Ini adalah uang receh yang Mama kumpulkan dari uang jajan Anum yang tidak mau Anum ambil”. Kata Mama.
“Mama juga selalu memasukkan uang receh yang Mama punya ketoples ini. Sampai sekarang jadi terkumpul sebanyak ini”.
“Ayo kita hitung…” teriak Ayah dengan semangat.

Mereka bertiga butuh waktu satu jam untuk menghitung semua uang receh didalam toples itu. Jumlahnya  membuat Anum terkejut.
“Jumlah semuanya adalah empat ratus tiga puluh dua ribu tiga ratus rupiah” kata Mama.
“Waaahh, banyak ya Ma…” Anum kagum uang receh tersebut jumlahnya banyak sekali.
“Iya… uang ini cukup untuk membeli seragam dan tas baru buat Anum” Mama tersenyum gembira.
“Tapi Ma, apa penjual seragamnya mau menerima uang receh ini?” Tanya Anum khawatir.
“Besok, sebelum pergi membeli seragam, kita ke bank dulu untuk menukarkan uang receh ini dengan uang kertas. Di bank, ada mesin penghitung uang receh otomatis” kata Ayah pada Anum.
“Nah, Anum sekarang tahu kan, kalau uang receh itu nilai dan fungsinya sama dengan uang kertas. Jadi mulai sekarang Anum tidak boleh menyia-nyiakan uang berapapun nilainya. Anum harus menghargainya. Anum juga harus mulai menabung. Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit”  jelas Mama.
“Uang adalah rezeki yang diberikan Tuhan kepada kita, jadi kita harus bijaksana memanfaatkannya..” Tambah Ayah.
“Hmmm.. Baiklah Mama dan Ayah, mulai sekarang Anum akan cinta uang receh, Anum juga akan cinta dengan Rupiah”. Mereka bertiga tertawa bersama. *